KeluarJangan Lupa Klik Like Dan Follow ya!
WELCOME TO andriworldwide.blogspot.com | Sesering mungkin mampir ke blog saya yang sederhana ini agar tidak ketinggalan berita-berita tentang game, terutama Ninja Saga dan yang lainnya | Jika ingin bertanya sesuatu tentang blog ini, kalian bisa bertanya | Jika ada kekurangan dalam blog ini mohon di maafkan | SALAM

GRATIS BITCOIN DI SINI

Get Free 100.000 SATOSHIS Get Free 1000 BITCOIN EARN 5500 BITCOIN

Tantangan Puasa dan Mudik

Share on :
Sudah menjadi tradisi di Indonesia, banyak orang berlebaran di kampung halamannya sendiri. Pulang mudik ke kampung halaman tentu menyenangkan. Tak peduli jaraknya sangat jauh dan kemacetan terjadi di jalan, asalkan bisa mudik ke kampung halaman sudah sebuah kebahagiaan tersendiri.

mudik bagi saya memiliki keasyikan tersendiri yaitu dapat berkumpul kembali bersama sanak saudara tiap tahun. perjalanan mudik saya dipenuhi berbagai rintangan, yakni macetnya jalanan saat ingin pulang mudik, namun semangat untuk berkumpul kembali bersama keluarga tidak pudar. saya hanya menjalaninya dengan penuh kesabaran.

Bulan puasa selama 30 hari memberikan suatu kesempatan baru bagi saya untuk berubah menjadi lebih baik, menahan rasa lapar dan haus merupakan tantangan yang sangat besar bagi saya.
Cobaan saat puasa yang saya hadapai yaitu kalap saat berpuasa, Lemas saat berpuasa, bau mulut, sembelit, Merasa kenyang saat sahur.

Meskipun demikian saya menerapkan strategi untuk mengatasi hal tersebut, dengan mudahnya saya bisa menjalani ibadah puasa hingga menjelang lebaran, 


Lebih dari sekedar melepas kerinduan pada kampong halaman, pulang/mudik  kekampung halaman pada saat menjelang lebaran yang dilakukan setahun sekali ini mengandung makna yang jauh lebih dari itu. Menurut Sjafri Sairin, pengamat kebudayaan dan perubahan social, mudik adalah fenomena sosio-kultural. Mudik sudah menjadi darah dagingmanusia Indonesia. Berbagai alasan rasional seolah tidak mampu untuk menjelaskan fenomena yang teranyam rapat dalam nilai kultural bangsa Indonesia itu.
Ada berbagai alasan mengapa orang mudik saat Lebaran. Namun, fenomena mudik jelas berkaitan erat dengan alasan kultural untuk mengunjungi orang tua dan keluarga, berziarah ke makam kerabat, dan menilik warisan tinggalan keluarga, di tempat asal. Jika ketiga alasan ini ada, maka dapat dipastikan dorongan mudik menjelang Lebaran juga tidak ada.
Namun, yang paling pokok dari ketiga hal itu, tampaknya, adalah alasan untuk mengunjungi orang tua dan kerabat. Pada bangsa Indonesia, umumnya ada semacam kebutuhan cultural, yang seolah-olah sebuah kekuatan yang mampu “memaksa” para perantau untuk pulang kampung.
Dorongan itu makin kuat dengan adanya persepsi, bahwa kesempatan yang paling cocok dan pantas bagi anak-anak untuk sungkem dan memohon maaf atas kesalahan dankekhilafan kepada orang tua dan kerabat adalah pada saat Lebaran. Sebaliknya, hari itu pulalah kesempatan yang dinanti-nantikan para orang tua untuk bertemu dengan anak-anaknya, memberikan maaf dan doa restu.
Fenomena mudik pada waktu lebaran ini adalah cerminan dari kehidupan budaya masyarakat Indonesia. Meski teknologi canggih seperti telepon, telepon seluler, internet, faksimili, dan layanan pos sudah tersedia secara luas, benda-benda teknologi itu sudah dirasakan tidak pas untuk mengisi kebutuhan budaya masyarakat.
Sebab, masyarakat umumnya masih membutuhkan komunikasi yang bersifat personal dan tatap muka. Masyarakat masih membutuhkan kehangatan hubungan kekerabatan dalam kehidupannya.
Menurut hasil sebuah penelitian, puncak kebahagiaan manusia itu bila mereka dapat berkumpul dengan keluarganya pada saat Lebaran. Maka, mudikpun dilakukan tidak peduli beratnya tantangan perjalanan yang dihadapai demi ingin bertemu sanak saudara dan juga orang tua dalam lebaran yang terjadi setahun sekali

0 comments on Tantangan Puasa dan Mudik :

Post a Comment

Jika Spam Akan DI hapus.

Tulisan Lain